Headlines News :
Home » , , , » Mau Jajan Maknyong, ke Pasar Badhog Saja!

Mau Jajan Maknyong, ke Pasar Badhog Saja!

Written By Kabare Bralink on Friday, December 25, 2015 | 3:54 PM

Pusat jajanan pasar di Kelurahan Bancar ini sudah berdiri sejak jaman Kolonial Belanda. Silahkan datang dan nikmati kuliner tradisional yang maknyoong...
Pasar Badhog! Mendengar nama pasar itu, warga kota 'pengiyongan' akan langsung mahfum. Pikiran pun akan melayang ke berbagai penganan dan jajanan pasar nan lezat bin nylekamin binti maknyong. Ya, Pasar Badhog memang pusat makanan dan aneka jajanan pasar. Baik yang belum diolah maupun siap santap tersedia disini.

Kata 'Badhog', dalam bahasa banyumasan yang memiliki arti makan. Tak heran jika Pasar Badog pun jualanya adalah 'badhogan' atau makanan semua. Eh, tapi jangan gunakan kosakata 'badog' untuk makan atau 'badogan' untuk makanan dalam percakapan sehari-hari dengan orang yang lebih tua. Karena 'badog' dan 'badogan' merupakan bahasa kasar (ngoko).

Pasar Badhog, berlokasi di Kelurahan Bancar, Kecamatan Purbalingga, tak jauh dari Kantor Pengadilan atau terminal Bancar. Tak akan sulit mencarinya meski agak masuk dari jalan utama. Jika naik angkutan umum, tinggal turun di Terminal Bancar lalu jalan kaki sekitar 200 meter. Ada gapura bertuliskan 'Bancar Badhog Center' yang ada di jalan menuju Pasar Badhog.

Lalu sejak kapan pasar itu berdiri? Jarang orang yang mengerti bagaimana sejarahnya, hanya saja beberapa orang tua yang tinggal disekitar pasar unik tersebut mengatakan bahwa pasar di tepi Sungai Klawing itu sejak Jaman Kolonial. Sejak awal, pasar itu juga menjual dagangan utamanya makanan.

Penjual di pasar ini sebagian besar merupakan kaum hawa. Mereka berdatangan dari desa-desa di seluruh pelosok Purbalingga untuk menjual penganan yang menjadi barang dagangan utamanya. Penganan itu sebagian besar berbahan dasar komoditas pertanian. Rupa-rupa makanannya, hampir semua jenis jajanan ada, kecuali Hamburger atau Pizza tentunya.

"Belanja jajanan pasar disini sangat lengkap mas, semua ada," kata Ibu Wijiastuti, salah satu pembeli di Pasar Badog yang ditemui Kabare Bralink. Ibu Wiji bersama anaknya yang lucu mengaku baru saja membeli beraneka kue basah seperti naga sari, carabikang, serabi, grontol, lapis dan cenil untuk kudapan keluargannya.

Aneka Jajanan di Pasar Badhog (www.tegeanblog.com)
Bapak Seno, yang ditemui di pasar itu mengaku juga kerap berkunjung ke pasar itu. Pegawai Pemda Purbalingga itu datang bersama keluarganya pada Hari Minggu atau liburan untuk berbelanja. "Sekalian wisata kuliner mas," katanya sambil asyik mengudap serabi.

Kompleks Pasar Badog sebenarnya tak begitu luas, arealnya hanya sekitar 80 meter persegi yang diatasnya dibangun beberapa los dan kios. Namun, hampir semua pedagang lebih suka menggelar dagangan di luar pasar, yaitu, di tepi jalan umum dan sekitarnya. Oleh karena itu, suasana di dalam pasar justru sepi dan di jalan umum ramai oleh lapak dadakan para pedagang.

Oleh karena itu, lalu lintas pun akan terganggu saat jam efektif jual beli pasar itu, dari jam 04.00 sampai 09.00 pagi. "Parkiran disini tidak pernah sepi, apalagi kalau hari pasar," kata Karsan, tukang parkir di Pasar Badog. Jika hari pasar, kata dia, kendaraan pembeli yang parkir bisa naik hingga tiga kali lipat. Setelah jam pasar usai, jalanan akan kembali lengang dan petugas kebersihanlah yang sibuk.

Pasar Badog memiliki hari pasaran setiap Hari Minggu dan hari-hari libur lainnya. Pada hari pasar ini, suasana pasar akan sangat ramai. Pembeli dari berbagai pelosok Purbalingga datang. Tak jarang ada pembeli yang 'kulakan' atau beli untuk dijual kembali.

"Disini murah-murah, saya biasa jual kembali di warung saya," kata Ibu Ida, salah satu pembeli. Keranjang belanjaanya penuh rupa-rupa makanan yang memang tidak akan mampu dihabiskan satu keluarga.

Meski ramai dan cukup potensial untuk dikembangkan, perhatian pemerintah daerah terhadap pasar unik itu sangat kurang. Penataan pasar itu masih apa adanya, kapasitas pasar pun sebenarnya sudah tidak mampu lagi menampung jumlah pedagang dan pembeli yang membludak.

Pedagang sering kali mengeluh tidak ada tempat berteduh untuk berjualan. Akibatnya sering kalang kabut jika turun hujan di pagi hari. Kalau sudah hujan, para pedagang sering kalang kabut mencari tempat berteduh dan barang daganganya di tinggalkan begitu saja. Jika hari terik payung dan tudung menjadi andalan para pedagang. "Kami berharap pemerintah daerah mau menata pasar ini dengan baik," ujar Warni, salah satu pedagang di pasar itu.

Siip lah.. Moga-moga pemerintah tergerak atine mbangun Pasar Badog. Nek wis kepenak mayuh rame-rame ditekani, dolan karo mangan nang ngkono. Ya mbok... jajanane maknyong, murah, enak maregi maning...

KabareBralink - Igoen

Sumber foto : (www.lesta1960.blogspot.com)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Braling - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis