Headlines News :
Home » , » Batu Akik Purbalingga, Riwayatmu Kini...

Batu Akik Purbalingga, Riwayatmu Kini...

Written By Kabare Bralink on Sunday, January 24, 2016 | 4:01 PM

Pada masa kejayaan batu akik, sekitar 1-2 tahun lalu, Purbalingga merupakan salah satu sentra batu akik yang cukup diperhitungkan di Indonesia. Deposit batu yang bisa diasah 'kinclong' itu tersedia melimpah di sepanjang sungai-sungai yang ada di Purbalingga, seperti Sungai Klawing, Kali Karang, Kali Gintung dan lain sebagainya. Jenisnya ada Nagasui, Pancawarna, Jasper, Telor Kodok dan lain sebagainya.

Orang pun berlomba-lomba memenuhi jarinya dengan cincin batu akik, menggantung liontin batu akik di lehernya, mengenakan bros  batu akik sebagai pemanis busana, memakai timang sabuk dengan batu akik atau sekedar hiasan batu akik di rumahnya. Pokoknya seakan tabu bagi warga Purbalingga jika tak memakai akik : 'nggak pakai akik nggak keren', PNS bahkan sempat diwajibkan mengenakan batu akik. Tua-Muda bahkan anak-anak, perempuan apalaki pria, bupati pun tukang becak, hampir semua membicarakan batu akik.

Pencari bahan batu akik pun 'menggerayangi' tepi sungai hingga pegunungan Purbalingga pagi-siang-malam bahkan sampai timbul korban dan mengkhawirkan kelestarian lingkungan. Para pengrajin profesional maupun abal-abal bermunculan dimana-mana, mesin pemotong dan pemoles batu berdesing sepanjang hari. Kemudian, kios batu akik dari yang permanen sampai yang tiban kelas pinggir jalan bermunculan bak cendawan di musim hujan, lapak-lapak jualan dengan tag 'Batu Akik Klawing' ribuan jumlahnya di dunia maya.

Kontes-kontes batu akik digelar hampir setiap minggu. Batu Klawing yang kaya corak pun sering merajai berbagai kontes. Harganya kadang pun tak masuk akal. Ada batu yang seharga motor, bahkan mobil sampai-sampai konon ada yang menang kejuaraan tingkat ASEAN dan ditawar Rp 2 Milyar. Wow!

Batu akik Purbalingga 'Booming'. Demam batu akik melanda. Tiada hari tanpa akik.

Kisah itu telah berlalu, booming sudah meredup, demam pun sudah sembuh. Tak banyak lagi dijumpai pencari batu akik kelayaban menggerataki sungai, pengrajin gulung tikar sampai mesin gerindanya mangrak mungkin sudah ditumuhi 'ramat', kios-kios tepi jalan bubar pasar yang permanen tutup. Batu akik van Purbalingga, game over!

Ina Farida salah satu blogger Purbalingga menulis lesunya Industri Batu AKik setahun ini, terutama di daerahnya, Kecamatan Rembang. "Masyarakat sudah kembali seperti semula, ke curug hanya untuk bermain air, mandi atau hanya sekedar jalan-jalan. Sudah jarang yang mencari batu, bahkan banyak warga membuang batu yang tak laku ke sungai," ungkap Taat Prianto, ketua pokdarwis Argo Lestari Desa wisata Tanalum. Selengkapnya bisa dibaca disini : .

Kejayaan batu akik Purbalingga tinggal kenangan. Padahal, fenomena itu sempat digadang-gadang sebagai salah satu mesin pendorong roda perekonomian Purbalingga. Industri batu akik sempat menjadi harapan baru untuk mengurangi jumlah penggangguran, terutama bagi kaum pria. Bahkan, fenomena batu akik di Purbalingga dianggap bisa mengurangi angka perceraian yang melejit di Kota Knalpot itu. Saya pernah menulisnya disini

Harapan manis itu juga pernah menjadi perhatian pemerintah daerah sampai pusat dan menjadi liputan media masa nasional seperti diberitakan disini dan disini

Fenomena melejit dan ambruknya industri batu akik dalam waktu singkat ini seharusnya menjadi kaca benggala bagi kita semua, jangan mudah untuk larut dan ikut-ikutan tren. Fondasi perekonomian seharusnya ditopang oleh sektor yang benar-benar real bukan sektor instan penuh spekulasi yang bak gelembung sabun itu, melembung lalu meletus.

Hal itu seperti mengulang kisah 'Ikan Louhan' atau tanaman 'Gelombang Cinta' dimana masyarakat pernah dibuat gila dengan fenomena itu. Bersyukur, sepertinya, tak sampai terdengar orang gila beneran atau jatuh miskin gegara batu akik di Purbalingga. Saat ini, pemain yang bertahan adalah pemain lama yang betul-betul menjiwai dan mendalami dunia batu akik, bukan ikut-ikutan tren. Pemakainya pun ternyata harus memiliki kecintaan kuat terhadap salah satu jenis batu mulia itu. Jika tidak, ya seperti saya, tak tahan berlama-lama mengenakan cincin batu akik.

Salam Nagasui..

(Kabare Bralink / Igoen)

*Sumber foto : www.pusatbatuakik.wordpress.com
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Braling - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis