Headlines News :
Home » , » Pola Pikir Masyarakat Kini Lebih Terbuka

Pola Pikir Masyarakat Kini Lebih Terbuka

Written By Kabare Bralink on Monday, February 29, 2016 | 9:30 AM

ngapak2

PURBALINGGA - Perkembangan dunia digital telah merubah pola pandang masyarakat dalam berinteraksi dan mengaktualisasi diri. Tahun 80 hingga 90-an banyak anak muda yang menggunakan media buku diary sebagai sarana curhat. Buku diary bersifat sangat pribadi, sehingga tidak jarang para pemilik mengunci atau menyimpanya rapat-rapat. Tidak boleh satu orang pun tahu permaslahan dirinya. Kalaupun harus curhat maka biasanya hanya sahabat-sahabat terdekat saja yang menjadi teman curhat. Model curhatan dengan sahabat mungkin sngat berbeda dengan model anak muda di korea selatan yang cenderung hidup individualis. Sangat jarang ditemukan curhatan sesama sahabat. Mereka merasa hidup masing-masing sudah berat dengan beban permaslahan individu masing-masing. Beratnya beban hidup dan langkanya sandaran curhat menjadikan angka bunuh diri di negara tersebut cukup tergolong tinggi. Kini di dalam era digital, banyak orang menjadikan sosial media sebagai ajang mengaktualisasikan diri hingga tak sadar menjadi ajang curhatan. Puas rasanya bila “derita atau permasalahan” hidup ditumpahkan dan di beri perhatian sesama teman di sosial media.

Setiap orang kini telah merubah pola pandang bersosialisasi lebih terbuka, tidak membedakan SARA. Bagi orang-orang yang 'mengkotakkan' diri akan tersingkir dengan sendirinya. Pola sosilisasi yang lebih terbuka ini lebih dikenal dengan pola inclusive. Masing-masing masyarakat mulai menerima sebuah perbedaan. Saat zaman sebelum reformasi, hal-hal SARA menjadi hal yang tabu untuk didiskusikan. Tak jarang sekelompok orang merasa lebih tinggi dibanding kelompok orang yang lain, begitu juga sebaliknya.

Kondisi pola inclusive yang menerima perbedaan ini berimbas pada dunia pariwisata. Dengan terbukanya pola inclusive ini gugurlah nilai-nilai perbedaan yang mengakibatkan cemoohan sebuah karakter pada kelompok masyarakat tertentu. Kini perbedaan tersebut menjadi sebuah nilai keunikan. Bagi sekelompok masyarakat cerdas perbedaan bahasa dan kebudayaan menjadi sebuah nilai jual tersendiri untuk tampil mengenalkan kelompok etnisnya. Kebanggaan untuk dikenal justru tumbuh. Sebuah Nikmat, fitrah dan kebenaran Qalam Illahi yang telah menciptakan hambanya berbeda-beda memang untuk dikenal.

Melirik sebuah argumen seseorang yang menyayangkan munculnya aktualisasi masyarakat akan Bahasa Ngapak sebagai identitas kebanggaan masyarakat Banyumasan mungkin wajar-wajar saja. Bagi saya pribadi mencoba berpikir bijak karena memang masih banyak elemen masyarakat yang belum menyadari perubahan zaman ini. Mungkin dahulu Bahasa Ngapak merupakan bahan cemoohan bagi sebagian masyarakat lain, tapi kini saat zaman digital dan pola inclusive telah menjadi mazhab banyak orang, maka perbedaan tersebut menjadi nilai unik untuk menjual diri bahwa kelompok masyarakan berbahasa ngapak memang unik dan punya nilai jual. Kita mungkin cukup terperangah dengan kenyataan yang ada akan keberadaan Bahasa Ngapak, seperti yang dituturkan pemerhati budaya banyumasan yaitu bpk Ahmad Tohari, yang dilansir di wikipedia.

Dalam kenyataan sehari-hari keberadaan basa banyumasan termasuk dialek lokal yang sungguh terancam. Maka kita sungguh pantas bertanya dengan nada cemas, tinggal berapa persenkah pengguna basa banyumasan 20 tahun ke depan? Padahal, bahasa atau dialek adalah salah satu ciri utama suatu suku bangsa. Jelasnya tanpa basa banyumasan sesungguhnya wong penginyongan boleh dikata akan terhapus dari peta etnik bangsa ini.”

Belajar dari seorang komedia Tukul Arwana, mungkin sebuah kisah kongkrit di depan mata kita, bagaimana bliau dahulu menjadi artis “agak beken” yang dianggap tidak punya nilai jual sehingga saat main ketoprak pun selalu hanya sebagai pelengkap. Ke-“katrok”-kan beliau menjadi ajang cemoohan. Kini kita tahu bahwa kesuksesan pundi-pundi pendapatan rupiah beliau setiap tahunnya konon separuh pendapatan David Beckham. Kemampuan melihat karakter “ndeso”-nya beliau yang dulu memalukan dan sekarang menjadi nilai jual tentunya hanya dimiliki oleh orang-orang pencari bakat, tentunya yang sudah menguasai pola inclusive.

Contoh lain saat jaman perbudakan, orang-orang kulit putih tentunya memandang rendah bangsa Afrikano yang konon pabrik budak bagi masyarakat kulit putih. Para kaum ningrat kulit putih sudah tentu akan malu dan tidak mungkin mengikuti kebudayaan apalagi aksen-aksen bicara para budak. Kini kita tahu kebudayaan Afrika menjadi nilai jual tersendiri oleh para kaum muda modern yang berkiblat dengan paradigma inclusive. Kita bisa lihat tarian, nyanyian, dan bahkan film; seperti madagaskar memiliki aksen bahasa bangsa Afrika. Kita tahu film madagaskar telah menembus box office. Nilai jual yang tinggi untuk kebudayaan Afrika yang dulu menjadi ikon kaum rendahan dan kini menjadi pelajaran yang baik bagi kita yang masih terperangkap dalam dunia ekslusive.

Kini, banyak film yang senang menggunakan bahasa Inggris dengan aksen Afrika, siapa tahu di kelak kemudian hari ada film layar lebar berbahasa Inggris beraksen Ngapak berhasil menembus box office hollywood.

(Kabare Bralink/Ery)
Pengirim naskah : Dino Setiyadi


Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Braling - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis