Headlines News :
Home » » Ternyata di Lereng Gunung Slamet Masih Ada Perkebunan Tembakau

Ternyata di Lereng Gunung Slamet Masih Ada Perkebunan Tembakau

Written By Kabare Bralink on Wednesday, July 28, 2021 | 1:10 PM

Tembakau di lereng gunung Slamet

PURBALINGGA
- Di era Kolonial Belanda dulu, tembakau Purbalingga eksis hingga ke mancaegara. Tercatat ada perusahaan rokok terbesar yaitu PT Gading Mas Indonesia Tobaco (GMIT), atau orang sering menyebutnya PT Gemit. Nah, PT GMIT ini eksis sampai tahun 1980-an. Tahun-tahun berselang, PT GMIT kini hanya tinggal sejarah, menghilang. Keberadaan tembakau di Purbalingga pun nyaris bersamaan pudar.

Namun, menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, saat ini masih terdapat lahan tembakau belasan hektar. Lokasinya di lereng Gunung Slamet, yaitu, Desa Kutabawa dan Serang, Kecamatan Karangreja yang petaninya masih membudidayakan tembakau yang sebagian besar beruapa tanaman sela, dan lebih banyak dikonsumsi sendiri. Kalaupun dijual di kalangan terbatas saja.

petani tembakau di lereng gunung slamet

Saryono, salah seorang petani di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Karangreja menyatakan sebagian besar petani menyisihkan sedikit lahan untuk ditanam tembakau. Seingatnya, ada lima jenis tembakau yang ditanam, yakni Genjah Kenanga, Genjah Cengis, Genjah Wiladah, Genjah Songgom dan Gober.

Selain itu, hal yang menarik dari para petani di lereng Gunung Slamet, adanya Cacag. Merupakan perkakas yang bergambar tokoh wayang Werkudara / Bima ini ialah alat pengiris tembakau tradisional yang digunakan oleh para Petani di Lereng Gunung Slamet.

Karena para petani di Desa Kutabawa masih mengunakan cara tradisional untuk menentukan saat-saat dalam periodisasi pertanian (pranata mangsa). Mereka menghitung waktu pertanian menggunakan bantuan alat bernama ‘papan petung’ yang dibaca oleh para sesepuh yang disebut kapujanggan.

Dan hingga kini, tembakau yang diproduksi sebagian besar hanya untuk konsumsi lokal dan sebagai bekal untuk berangkat ke ladang. “Kalau kumpul-kumpul ya tukeran mbako. Saling nyoba. Itu biasa. Jadi gak perlu beli rokok,” ujar Saryono salah seorang petani dari Dusun Kutabawa, Desa Karangreja.

(Kabare Braling/Igo)
Share this article :

28 comments:

  1. Wah ak baru tau di gunung Slamet ada perkebunan tembakau, tapi ya musim kemarau aja kan ya kak, soale klo kena ujan kualitas daunnya jadi jelek

    ReplyDelete
  2. Wah, ternyata di lereng gunung Slamet ada perkebunan tembakau? Jadi mereka berkebun hanya untuk konsumsi lokal aja ya.

    ReplyDelete
  3. Gunung Slamet ini nggak jauh dari tempat tinggal istri saya. Ternyata punya sejarah perkebunan tembakau yang cukup sukses ya di sana.

    ReplyDelete
  4. Waaah keren banget, jadi penasaran pengen ke sana. Pasti banyak spot foto asik itu.

    Aku suka banget aroma tembakau yang baru dipanen, terus dijemur dan dirajang, beuhh mantap, tapi gak suka aromanya setelah menjadi rokok dan disundut api.

    ReplyDelete
  5. Gunung Slamet ada lahan tembakau, keren yah. Sayang ya perusahaan tembakaunya sudah tutup. Di Malang masih ada perusahaan2 tembakau, kalau melewati akan menciun aroma tembakau yang enak.

    ReplyDelete
  6. Wah di jawa tengah ya brarti. Pengen jalan-jalan ke kaki gunung slamet melihat kebun tembakaunya pasti jadi spot foto keren tuh

    ReplyDelete
  7. wah sayang banget ini... pabrik rokoknya juga hilang gitu ya kak? padahal ini kalau dilanjutkan dan dibuat hanya untuk produk eksklusif pasti jadi aset bangsa

    ReplyDelete
  8. Indonesia sebenarnya penghasil tembakau ya, Mbak. Ini karena banyaknya pabrik rokok di sini. Termasuk di Gombong Kebumen juga ada pabrik rokok. Dan ternyata di lereng gunung Slamet, masih ada perkebunan tembakau walau tidak luas lagi.

    ReplyDelete
  9. Terakhir ke gunung Slamet itu tahun 2016, di lereng nya memang banyak perkebunan ya, dan baru tahu kalau salah satunya ada tembakau.
    Btw nama alatnya sama kayak di daerah Sunda, cacag. Pernah lihat orang yg lagi motong2 tembakau pakai alat ini di kampung nenekku, di Garut.

    ReplyDelete
  10. Waktu aku ke Dieng, sempat lihat kebun-kebun masyarakat setempat juga ditanamin tembakau
    Seumur-umur ya baru tau pohon tembakau di sana
    Baru tau kalau di lereng Gunung Slamet juga ada yang bertanam tembakau
    Urusan tembakau ini serba salah sih ya, antara untuk rokok sama bahayanya sendiri
    Memang harus bijak pemanfaatannya

    ReplyDelete
  11. Bisa dikatakan di lereng Gunung Slamet itu swasembada tembakau ya. Mereka bisa memenuhi kebutuhan tembakau untuk kalangan sendiri. Kalau diperluas barangkali bisa dieksport dan menambah penghasilan mereka ya...

    ReplyDelete
  12. wah baru tau nih, kak.. memang masih banyak yaa petani tembakau lokal untuk memasok kebutuhan dalam negeri dan berbagai keperluan lain. semoga menjadi salah satu pendapatan yang baik untuk masayrakat setempat ya

    ReplyDelete
  13. Kalau belasan hektar kayaknya emang dikit, ya. Wajar jika hanya untuk konsumsi lokal.

    ReplyDelete
  14. Indonesia memang kaya banget untuk berbagai tanaman industri, tembakau ini salah satunya. Kalau di kota asalku (Jember) memang masih lumayan banyak yang menanam tembakau. Sebagian besar untuk diekspor ke Jerman untuk diolah menjadi cerutu.

    ReplyDelete
  15. Love Indonesiaaa <3 Tembakaunya dulu ini kan yang juga dicari sama penjajah hihi.

    ReplyDelete
  16. Surga tersembunyi nih pak. Perlu dilestarika supaya awet.

    Tapi emang bisa ya, tembakau tumbuh di lereng gunung. Mohon informasinya

    ReplyDelete
  17. Indonesia memang tidak diragukan ya kekayaan alamnya, sungguh berlimpah ruah. Pasti sekarang lereng Gunung Slamet jadi tempat yang dijaga oleh masyarakat sekitar ya.

    ReplyDelete
  18. Gunung Slamet itu dikelilingi berapa kabupaten mba? Ayahku asal kaki Gunung Slamet tepatnya di Watu Kumpul masuk Kabupaten Pemalang. Berarti tetanggaan kota ya? Pernah ke Purbalingga tp main di kali river tubingan disungai Klawing. Ternyta ada juga perkebunan tembakau ya...Next deh kalau ke Jateng pengen main ke Purbalingga.

    ReplyDelete
  19. Ternyata masih ada seidkit lahan perkebukan tembau di kereng gubung slamet ya. Syang juga ya dulynya daerah ini berjaya karen tembakau.

    ReplyDelete
  20. Baru engeh dengan nama cacag. Semoga tetap dilestarikan dan kebersihan di lereng Gunung Slamet terjaga ya.

    ReplyDelete
  21. Waaah keren banget, jadi penasaran pengen ke sana. Pasti banyak spot foto asik itu, layak banget untuk di liput media nih

    Aku suka banget aroma tembakau yang baru dipanen, terus dijemur dan dirajang, beuhh mantap, tapi gak suka aromanya setelah menjadi rokok dan disundut api.

    ReplyDelete
  22. Memangnya kenapa kak perusahaan rokok tersebut bisa sampai nggak beroperasi dan kebun tembakau di sana jadi berkurang?

    Tapi bagaimana pun juga semoga petani di sana tetap bisa hidup sejahtera ya.

    ReplyDelete
  23. Wah, seumur-umur belum pernah lihat tembakau mentah atau yang masih jadi tanaman sih. Jadi penasaran, hehe

    ReplyDelete
  24. Wuah gunung slamet jadi lahan yg baik ya untuk tanaman tembakau
    Hampir sama kayak gunung raung di jember yg banyak tembakaunya sehingga dijuluki kota daun emas

    ReplyDelete
  25. Pegunungan memang tempat tumbuhan bisa hidup dengan bahagia ya kak. Jadi ingat bapaku yang nglinting tembakau. Dan juga sawah saudaraku yg ditanam tembakau. Sehat-sehat petani di sana

    ReplyDelete
  26. Saya baru tahu juga ini ya ampun, karena dikonsumsi sendiri atau terbatas juga dalam jual beli ini sepertinya ditanam dan dirawatnya dengan penuh ya. Kualitasnya juga pasti tjakep krn tak diburu-buru juga. Jadi inget buyut sy yg suka linting mbako, aromanya khas

    ReplyDelete
  27. bisa tembakau, jadi kangen masa kecil saya yang pernah ambil upah jadi tukang sobek2 tembakau.
    di desa saya masih banyak juga petani tembakau kak

    ReplyDelete

 
Copyright © 2011. Kabare Braling - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis