Headlines News :
Home » , , , , » Diskusi Historia Perwira #1 : Ragam Sejarah di Purbalingga Menarik dari Masa ke Masa

Diskusi Historia Perwira #1 : Ragam Sejarah di Purbalingga Menarik dari Masa ke Masa

Written By Kabare Bralink on Sunday, March 20, 2022 | 6:49 AM

Historia Purbalingga

Purbalingga – Bumi Perwira, Purbalingga, ternyata memiliki catatan sejarah yang menarik dari era ke era. Hal itu diungkap dalam Diskusi Historia Perwira #1 : Ragam Sejarah di Purbalingga yang dilaksanakan di Kedai Pojok, Minggu (13/03/2022).

“Ini diskusi seri #1 yang dilaksanakan oleh Historia Perwira. Untuk yang pertama, kita memberikan gambaran sejarah Purbalingga sejak Jaman Purbakala hingga Perang Kemerdekaan yang ternyata kaya akan cerita,” ujar founder Historia Perwira, Gunanto Eko Saputro dalam pembuka diskusi.

Acara yang dimoderatori oleh aktivis muda Laksa Tiar Makmuria berlangsung gayeng selama kurang lebih dua jam secara daring dan luring. “Rencananya acara akan dilaksanakan rutin dengan tema yang lebih spesifik,” ujar Tiar.

Paparan Gunanto dibagi menjadi lima bagian, yaitu, Jaman Purbakala, Era Hindu-Budha, Islam, Masa Kolonialisasi Belanda, sampai Perjuangan Kemerdekaan. “Kita memiliki catatan menarik dari setiap masa tersebut,” ujar Gunanto yang sudah menulis 5 buku dan novel tentang Sejarah Purbalingga.

Misal, kata dia, Purbalinga mempunyai Situs Tipar di Desa Ponjen yang merupakan situs perbengkelan purba. Situs itu pernah diteliti Prof Harry Truman Simanjuntak ‘Bapak Arkeologi Indonesia’ pada tahun 1983 dan masuk dalam Atlas Pra Sejarah Nasional sejajar dengan situs purbakala lainnya seperti Sangiran dan Trinil. Ada pula menhir di Desa Dagan, punden berundak di Situs Bandingan, Karangjambu juga temuan fosil geraham Stegodon (gajah purba) di Desa Onje,

Kemudian, pada era Hindu-Budha kita juga memiliki Prasasti Batu Tulis Cipaku dan Prasasti Bukateja. “Ini artefak menarik, misal Prasasti Bukateja terbuat dari lempengan emas. Sayangnya saat ini tersimpan di Leiden, Belanda,” ujarnya. Inskripsi di dalam dua prasasti tersbeut menandakan abad ke 5-8 Masehi, Purbalingga terdapat peradaban bercorak Hindu-Budha.

Lalu, kalau bicara era sesudahnya ada Kadipaten Wirasaba yang eksis sejak jaman Majapahit. Wirasaba merupakan induk dari Banyumas Raya kini. “Saya berandai jika saat itu tidak terjadi Peristiwa Mrapat yang mengakhiri kejayaan Wirasaba maka, budaya 'panginyongan' sekarang namanya bukan ‘Banyumasan’ tetapi ‘Wirasabaan’,” katanya.

Beralih ke era Islam, ada Perdikan Cahyana yang mengirimkan kontribusi dalam pembangunan Kesultanan Demak, imperium Islam pertama di Pulau Jawa. Syech Wali Perkasa. Generasi ke 4 Cahyana mendapat Surat Kekancingan dari Raden Patah yang menyatakan wilayah Cahyana bebas pajak.

Lalu, pada masa Kolonialisasi Belanda, Purbalingga memiliki peran penting dengan adanya pabrik tembakau, gula dan teh. Ada dua pabrik gula di Bojong dan Kalimanah serta pabrik tembakau besar di Kandanggampang yang bahkan eksis sampai tahun 1980an. Kita juga menjadi lokasi Lapangan Udara Wirasaba yang merupakan pangkalan militer penting di wilayah Jawa Tengah bagian selatan-barat.

Selanjutnya, pada saat Perang Kemerdekaan, rakyat Purbalingga juga bangkit untuk melawan penjajahan. “Ada peristiwa Perang Blater, Perang Pepedan, Perang Lamuk, Sabotase Belanda di Bobotsari dan lainnya. Seorang serdadu Belanda bernama Letnan Hans Gerritsen bahkan secara khusus menulis buku atas pengalaman selama tugas militernya di Purbalingga berjudul 'De Hinderlag Bij Sindoeradja',” ungkap Gunanto.

Menurut Gunanto, semua catatan sejarah itu membuktikan orang-orang yang hidup di 'Bumi Pewira' sudah menorehkan catatan emas sejak dulu kala. “Kita seharusnya bangga dan menggunakannya sebagai api semangat untuk membangun diri juga membangun Purbalingga kini dan masa depan."

Tama, pengajar sejarah yang ikut dalam diskusi tersebut, mengapresiasi kegiatan itu. Menurutnya, sejarah lokal perlu dimasukan dalam muatan pelajaran sejarah untuk sekolah di Purbalingga. “Saya kita sejarah lokal seperti ini perlu diketahui secara luas dan bisa dimasukan dalam pembelajaran,” ujarnya.

Oxta Prihastono, salah satu peserta diskusi berharap hal seperti ini bisa dilaksanakan secara rutin. “Semoga komunitas Historia Perwira bisa eksis dan diskusi sejarah diagendakan berkelanjutan untuk memberikan literasi bagi masyarakat Purbalingga,” ujarnya. (Kabare Braling).
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Braling - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis