Headlines News :
Home » » Perusakan Hutan Akibatkan Longsor Terus Terjadi di Jalur Siregol

Perusakan Hutan Akibatkan Longsor Terus Terjadi di Jalur Siregol

Written By Kabare Bralink on Friday, April 8, 2022 | 4:20 AM

Menyusuri hutan Siregol

Purbalingga – Bencana longsor terus menerus terjadi di jalan yang menghubungkan Desa Kramat – Sirau, Kecamatan Karangmoncol atau yang biasa disebut Jalur Siregol. Terbaru, Selasa kemarin (05/03/2022) longsor kembali terjadi di jalur yang membelah kawasan hutan itu sehingga memutus akses jalan.

“Kali ini longsor lebih besar dari sebelumnya. Material batunya lebih besar-besar dan lebih banyak,” ujar Hendri Sutrisno, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Autentic Desa Sirau, Rabu (06/03).

Hendri menambahkan lokasi terjadinya longsor kali ini tak jauh dari titik sebelumnya. “Kalau yang sekarang ini lokasi longsor ada di 11 titik,” ujarnya.

Menurut Hendri, longsor yang terus menerus terjadi salah satunya diakibatkan oleh masifnya perusakan hutan. “Saat ini banyak hutan yang sudah dirambah atau diubah menjadi kebun kapulaga,” ujarnya.

Analisis Hendri diamini oleh aktivis pecinta alam Purbalingga. Teguh Pratomo dari Perhimpunan Pegiat Alam (PPA) Gasda menyatakan hasil turun lapang yang dilaksanakan belum lama ini memang membeberkan fakta bahwa kawasan hutan yang seharusnya ditumbuhi pepohonan sudah berubah menjadi kebun kapulaga.

"Kami melakukan survei pada 4-6 Maret 2022 lalu dan faktanya memang demikian, daerah yang seharusnya hutan lindung sudah menjadi ‘Taman Kapulaga Indah’. Selain itu memang terjadi juga penebangan liar,” ujarnya.

Teguh menyampaikan survei yang dilakukan melewati kawasan hutan mulai dari Desa Kramat sampai ke Sirau. “Kondisinya memang sudah memprihatinkan, jika dari tepi jalan masih tampak seperti hutan, tak sampai 1 kilometer kami berjalan sudah penuh tanaman kapulaga,” ujarnya.

Penyuluh Kehutanan Wilayah Karangmoncol Hijrah Utama menambahkan budidaya kapulaga tanpa memperhatikan kondisi tutupan lahan memang tidak baik dari sisi konservasi. “Sebenarnya kapulaga adalah tanaman tumpangsari namun karena kondisi tanaman pokok kayu-kayuannya hilang menyebabkan tanah kehilangan daya cengkram sehingga longsor kerap kali terjadi. Jadi permasalahan pokok sebenarnya lebih diakibatkan hilangnya tanaman pokok kayu-kayuan,” katanya.

Apalagi kondisi lahan di area sekitar jalur Siregol memang memiliki kemiringan curam yang seharusnya memang untuk konservasi bukan budidaya. Kemudian, tanaman pokok, kondisinya banyak yang ditebang. “Jika tutupan lahannya berkurang / hilang dengan curah hujan yang tinggi tentunya akan meningkatkan risiko longsor, itulah yang terjadi di Siregol,” ujar alumnus Magister Ilmu Lingkungan Unsoed itu.

Ketua PPA Mayapada Rully Suyitno menyatakan longsor Siregol memantik keprihatinan komunitas pecinta alam Purbalingga. Pihaknya sudah kerap melakukan penanaman pohon dan sosialisasi tentang konservasi. Namun, kata Rully, hal itu harus diikuti kesadaran masyarakat dan dukungan semua stakholder.

“Waktu longsor pertama kami langsung beraksi dengan menanam 3300 pohon oleh gabungan pecinta alam Purbalingga. Namun, hal itu akan terus terjadi jika perusakan hutan masih terus dilakukan,” ujarnya.

Sebagai informasi, kawasan hutan di area Siregol dan sekitarnya merupakan benteng hutan alam terakhir di Purbalingga. Ketua Ekspedisi Sisik Naga Gunanto Eko Saputro menyebutkan kawasan hutan itu masih memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.

“Hasil ekspedisi kami di tahun 2020 bersama Kelompok Studi Biologi Unika Atmajaya mengidentifikasi setidaknya ada 46 jenis burung, berjenis primata,mamalia serta keanekaragaman hayati lainnya, termasuk yang dilindungi seperti Owa Jawa (Hylobates Moloch) dan Elang Jawa (Nizaetus bartelsii),” ujarnya. (Kabare Braling).
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Braling - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis